Powered by Max Banner Ads 

PPh Pasal 22 ini sebenarnya adalah PPh Pasal 22 yang harus dipungut oleh instansi pemerintah ketika melakukan pembayaran atas pembelian barang. Terdapat 3 pihak yang menjadi pemungut PPh Pasal 22 atas pembayaran atas pembelian barang ini, yaitu:

  1. bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang;
  2. bendahara pengeluaran berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan (UP);
  3. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (LS);

Wajib Pajak yang dipungut PPh Pasal 22 adalah Wajib Pajak yang menerima pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan oleh Bendahara Pemerintah/Kuasa Pengguna Anggaran/pejabat penerbit SPM (Rekanan Pemerintah).

Besarnya PPh Pasal 22 yang harus dipungut adalah 1,5% dari harga pembelian tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN). PPh Pasal 22 terutang dan dipungut pada saat pembayaran.

Contoh :

CV Sahabat adalah perusahaan di bidang perdagangan. Pada bulan April 2016 CV Sahabat ditunjuk sebagai pemasok meja kursi untuk Dinas Koperasi Pemerintah Kota Palembang. Nilai pengadaan meja kursi tersebut adalah Rp77.000.000 termasuk PPN. PPh Pasal 22 yang dipungut oleh Bendahara Dinas Koperasi Pemkot Palembang adalah 1,5% x Rp70.000.000 atau sama dengan Rp.1.050.000,00.

Terdapat juga pengecualian dari pemungutan PPh Pasal 22 pembayara atas pembelian barang ini, yaitu:

  1. pembayaran  yang jumlahnya paling  banyak Rp2.000.000,00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah
  2. pembayaran atas pembelian bahan bakar minyak, bahan bakar gas, pelumas, benda-benda pos
  3. pembayaran atas pemakaian air dan listrik
  4. pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
  5. pembelian gabah dan/atau beras.