Powered by Max Banner Ads 

Untuk menyajikan perhitungan laba fiskal dalam SPT Tahunan, salah satu yang harus diperhatikan adalah apakah penilaian persediaan yang dilakukan sudah sesuai dengan ketentuan pajak. Apabila penilaian persediaan belum sesuai dengan ketentuan pajak, maka semestinya nilai persediaan dikoreksi dalam proses rekonsiliasi fiskal yang dilakukan sebelum membuat SPT Tahunan.

Nah, menurut Pasal 10 ayat (6) Undang-undang Pajak Penghasilan, persediaan dan pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama.

Dengan demikian, hanya terdapat dua metode penilaian persediaan yang bisa dilakukan oleh Wajib Pajak, yaitu metode rata-rata (average method) dan metode Fisrt In First Out (FIFO). Wajib Pajak harus memilih salah satu metode tersebut dan dilakukan secara konsisten. Perubahan atas metode penilaian persediaan harus mendapatkan persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak.

Ketentua ini juga mengatur bahwa penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan harga perolehan (cost method). Sesuai dengan kelaziman, cara penilaian tersebut juga diberlakukan terhadap sekuritas.

Jenis persediaan sendiri pada umumnya terdapat 3 (tiga) golongan persediaan barang, yaitu barang jadi (finished goods) atau barang dagangan, barang dalam proses produksi (work in process), bahan baku (raw material) dan bahan pembantu. Semua jenis persediaan harus dinilai dengan asumsi arus barang rata-rata atau FIFO. Sedangkan nilai dari persediaan dicatata menurut harga perolehannya atau at cost.