Home > Faktur Pajak > Mengulik Aplikasi e-Faktur DJP

Mengulik Aplikasi e-Faktur DJP

November 23rd, 2017 Leave a comment Go to comments

 Powered by Max Banner Ads 

Demi kenyamanan Wajib Pajak dan meminimalisir penyalahgunaan faktur pajak, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) meluncurkan aplikasi e-faktur sekitar dua tahun silam. Seperti diketahui, e-Faktur pajak online adalah faktur pajak elektronik yang dibuat melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh DJP.

e-Faktur mendapat sambutan positif dari masyarakat, khususnya Pengusaha Kena Pajak karena memiliki segudang manfaat. Sebut saja digantikannya tanda tangan basah dengan tanda tangan elektronik, juga faktur pajak yang kini tidak harus dicetak. Hal ini dapat mengurangi biaya kertas, biaya cetak, dan biaya penyimpanan dokumen.

Selain itu, e-Faktur DJP juga digunakan untuk membuat SPT Masa PPN sehingga PKP tak perlu lagi membuatnya terpisah pada aplikasi e-SPT. PKP yang menggunakan aplikasi ini juga dapat meminta nomor seri faktur pajak melalui situs DJP Online dan tidak perlu lagi datang ke Kantor Pelayanan Pajak.

Dengan aplikasi e-Faktur ini, pemerintah juga mendapatkan banyak keuntungan. Seperti dapat meminimalisir penyalahgunaan faktur pajak, kesalahan pengisian faktur pajak, serta mendukung program “go green”.

Jika manfaat bagi pemerintah dan penjual sudah jelas, bagaimana dengan pembeli? Pembeli dijamin terlindung dari penyalahgunaan faktur pajak yang tidak sah, karena cetakan e-Faktur dilengkapi dengan pengaman QR code. Informasi dalam QR code dapat dilihat dengan mudah menggunakan aplikasi QR code scanner melalui smartphone.

Namun demikian, tak ada gading yang tak retak. Setiap aplikasi tentu memiliki kelemahan atau kekurangan, begitu pula dengan efaktur DJP. Berikut ini kekurangan aplikasi efaktur yang disediakan oleh DJP dari hasil survey yang telah kami lakukan dan melibatkan sejumlah responden:

  1. Belum berbasis web. Ya, untuk mendapatkan aplikasi ini, PKP perlu mengunduh dan melakukan instalasi terlebih dahulu di komputer;
  2. Teknis penggunaan aplikasi yang cukup rumit;
  3. Jika terdapat pembaharuan sistem, maka penggunanya perlu menjalankan proses update;
  4. Database bersifat offline. Artinya, database terdapat di komputer pengguna. Sehingga, jika komputer tersebut rusak atau hilang, maka database juga akan hilang;
  5. Sistem aplikasi e-Faktur yang terkadang lambat yang tentu saja mempengeruhi User Experience;
  6. Tidak ada layanan “live chat” bila mengalami kesulitan dalam menggunakan aplikasi.
Categories: Faktur Pajak Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.